Sejarah Lengkap Berdirinya Muhammadiyah dan Perannya di Indonesia
![]() |
| Logo Organisasi Perserikatan Muhammadiyah (Photo: Istimewa) |
Selama lebih dari satu abad,
Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berhasil
mengelola sektor pendidikan, kesehatan, filantropi, dan pemberdayaan masyarakat
secara independen dan terpercaya. Muhammadiyah mendirikan sekolah dari tingkat
dasar hingga perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, serta berbagai program
pemberdayaan sosial-ekonomi yang tersebar di perkotaan, pedesaan, wilayah
terpencil, kepulauan, hingga komunitas adat dan daerah rawan bencana.
Sebagai organisasi Islam pribumi
pertama yang melakukan reformasi pendidikan, Muhammadiyah memperkenalkan sistem
pendidikan Islam modern, tata kelola organisasi yang akuntabel, serta
mempelopori gerakan emansipasi perempuan muslim.
Tujuan utama Muhammadiyah adalah
mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Namun, manfaat gerakannya
juga dirasakan oleh masyarakat lintas agama, suku, dan budaya, sejalan dengan
misi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Ajaran dasar Muhammadiyah berlandaskan
pada dakwah, tajdid, dan Islam Berkemajuan yang berpaham wasathiyah (moderat).
Dakwah berarti menyebarkan nilai-nilai Islam yang membawa manfaat, tajdid
berarti pembaruan pemikiran agar relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sementara Islam Berkemajuan merupakan karakter praktik beragama
khas Muhammadiyah.
Sejarah Berdirinya Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan pada 18
November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H) di Kauman, Yogyakarta, oleh KH. Ahmad
Dahlan. Awalnya, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Sekolah Rakyat bernama Madrasah
Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada awal 1912. Kegiatan belajar mengajar
dilakukan di ruang tamu rumahnya berukuran 6 × 2,5 meter, dengan tiga meja,
tiga kursi panjang, dan satu papan tulis. Murid pertama berjumlah sembilan
orang.
Madrasah tersebut didirikan murni dari
harta pribadi KH. Ahmad Dahlan tanpa bantuan pihak lain. Dorongan mendirikan
organisasi datang dari para santri dan murid Kweek School Jetis agar lembaga
pendidikan tersebut dapat terus berlanjut. Organisasi itu diberi nama Muhammadiyah,
sebagai harapan agar anggotanya meneladani Nabi Muhammad SAW.
Dalam Statuten Muhammadiyah yang
diajukan ke pemerintah Hindia Belanda, ditetapkan tanggal berdiri organisasi
adalah 18 November 1912. Setelah proses panjang, Muhammadiyah resmi diakui
sebagai badan hukum melalui Besluit No. 81 pada 22 Agustus 1914.
Pada masa awal, pemerintah kolonial
membatasi ruang geraknya. Namun dalam Kongres Boedi Oetomo tahun 1917 di rumah
KH. Ahmad Dahlan, beliau menegaskan bahwa Muhammadiyah harus meluas ke seluruh
Jawa hingga nusantara. Setelah pembatasan pemerintah berkurang, KH. Ahmad
Dahlan mulai berdakwah ke berbagai daerah untuk menyerukan Islam yang
mencerahkan dan membebaskan dari kebodohan.
Kepemimpinan Muhammadiyah setelah KH.
Ahmad Dahlan (wafat 1923) diteruskan oleh:
* KH. Ibrahim (1923–1931)
* KH. Hisyam (1931–1936)
* KH. Mas Mansyur (1936–1942)
* Ki Bagus Hadikusuma (1942–1953)
Riwayat Singkat KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan — lahir sebagai Muhammad
Darwis di Kauman, Yogyakarta pada Agustus 1869 — adalah putra KH. Abu Bakar,
imam dan khatib Masjid Besar Kauman, dan Siti Aminah binti Haji Ibrahim, putri
seorang ulama dan penghulu besar.
Sejak muda, ia berguru pada banyak
ulama terkemuka, antara lain:
* Fiqh kepada KH. Muhammad Saleh
* Nahwu kepada Haji Muhsin
* Ilmu Falak kepada KH. Raden Dahlan
* Hadis kepada KH. Mahfudh dan Syekh
Khayyat
* Qiraah kepada Syekh Amien dan Sayyid
Bakri
Ia juga mempelajari ilmu umum seperti
bahasa Jawa, Melayu, dan ilmu pengetahuan lain dari guru lintas latar belakang.
Pada 1889, beliau menikah dengan Siti
Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) yang kemudian mendirikan organisasi perempuan
Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, pada 19 Mei 1917.
Keteladanan KH. Ahmad Dahlan tampak
dalam pengorbanannya. Ketika sekolah kekurangan dana untuk menggaji guru,
beliau melelang barang-barang rumahnya. Murid dan masyarakat yang terinspirasi
membeli barang-barang itu lalu mengembalikannya, hingga terkumpul dana sebesar
F 4.000, jumlah yang sangat besar kala itu.
Hingga akhir hayat, KH. Ahmad Dahlan
tetap aktif berdakwah. Ia mendirikan organisasi kepanduan Hizbul Wathan (1918),
Bagian Penolong Haji, mushala khusus perempuan pertama di Hindia Belanda, dan
surau di Tretes Malang sebelum wafat pada 1923.
Teologi Al-Ma’un
Teologi Al-Ma’un adalah konsep penting
dalam Muhammadiyah yang lahir dari cara KH. Ahmad Dahlan mengajarkan Surat
Al-Ma’un. Ketika para santri sudah hafal namun belum mengamalkannya, KH. Ahmad
Dahlan memerintahkan mereka untuk mengumpulkan makanan dan membantu fakir
miskin.
Dari pengalaman tersebut, lahirlah Teologi
Al-Ma’un, yaitu pemahaman bahwa ajaran Islam harus diwujudkan dalam tindakan
nyata melalui pelayanan sosial. Konsep ini menjadi dasar berdirinya klinik,
panti asuhan, dan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).
Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar
Filosofi gerakan Muhammadiyah berpusat
pada amar makruf nahi munkar dan tajdid. Dakwah bukan hanya menyampaikan ajaran
Islam, tetapi juga mencari solusi atas persoalan umat melalui integrasi ajaran
agama dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Islam Berkemajuan dan Wasathiyah
Ideologi Muhammadiyah adalah Islam
Berkemajuan yang berpandangan wasathiyah (moderat). Sejak awal, KH. Ahmad
Dahlan menekankan pentingnya Islam yang mendorong peradaban, kemajuan, dan
pencerahan.
Islam Berkemajuan menegaskan bahwa
pembaruan tidak hanya pada akidah, ibadah, dan akhlak, tetapi juga pada aspek muamalah
duniawiyah yang berdampak luas pada kehidupan manusia.
Dasar ideologinya merujuk pada:
* Ali Imran: 104
* Ali Imran: 110
* Al-Baqarah: 143
Ayat-ayat ini menegaskan peran umat
Islam sebagai khoiru ummah, ummatan wasathan, dan agen perubahan.
Meskipun memiliki ciri khas,
Muhammadiyah tetap mengutamakan ukhuwah, toleransi, dan sinergi dengan berbagai
organisasi Islam lainnya untuk kemajuan umat dan bangsa. (red)
